Kelas (Non) Teknologi Madrasah Tsanawiyah Di pedesaan Madura

Setiap universitas di Indonesia bertanggung jawab untuk pemberdayaan masyarakat desa yang ada di sekitar kampus tersebut. Program pemberdayaan masyakarat ini bahkan dijadikan mata kuliah wajib bagi mahasiswa yang sudah tingkat akhir. Mata kuliah itu bernama Kuliah kerja nyata atau dipendekkan menjadi KKN. dan ini merupakan secuplik cerita pengalaman pribadiku saat menjalani kuliah yang benar-benar nyata di desa terpencil pedalaman yang jauh dari hingar bingar kota yakni desa Rangperang Laok,Kec. Proppo,Kab. Pamekasan – Madura.

Bermula ketika aku ditempatkan sebagai tenaga pengajar tambahan di sebuah sekolah berbasis agama islam, Madrasah Tsanawiyah sumber baru ponpest Mieftahul Ulum desa Rangperang Laok, tempatku mengabdi menempuh Kuliah kerja nyata.

Pada awalnya sungguh tak terbesit sama sekali dalam benak ku untuk mengajar disebuah sekolah menengah di pedesaan. Persiapan tuk mengajar pun tidak ada sama sekali. Maklum lah sebagai mahasiswa yang menempuh jurusan teknik informatika,di bangku kuliah, aku hanya di ajari bagaimana meng-coding, meng-coding dan meng-coding. Sungguh Teknik Informatika yang membosankan.

Namun, dengan niat yang tulus ikhlas tanpa pamrih disertai bacaan basmalah sambil sedikit membuka lembaran-lembaran kenangan masa lalu 10 tahun lalu saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah, aku jadikan pengalaman tuk mengajar.

Hari pertama saat pertama masuk kelas,aku kebagian mengajar kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Dalam batinku , mereka yang akan kuhadapi hanyalah anak desa yang baru berganti seragam dari seragam merah-putih menjadi biru-putih.  Ku buka pintu kelas itu dengan senyuman termanis yang aku punya. Seolah teringat saat pembekalan yang diberikan oleh pihak kampus sebelum KKN berlangsung,”tebarlah senyum untuk mencairkan suasana”.

“Selamat pagi pak guru!!!!!”. Hampir saja bibirku mau mengucap salam, namun sudah didahului oleh salam hangat mereka. Sungguh antusiasme yang tinggi bagi mereka menyambut guru pengganti yang belum mereka kenal sama sekali. Ku lihat disetiap sudut ruangan, kulihat senyum mereka yang mengarah kepadaku. Wajah-wajah polos bocah yang baru lulus sekolah dasar bersekolah tanpa memakai sepatu dengan dandanan seadanya. Sungguh berbeda dengan sekolah menengah pertama yang ku duduki dulu saat aku masih se-umuran dengan mereka. disini,siswa cowok memakai peci dan siswa cewek semuanya berkerudung. Benar-benar sangat kental aroma islami nya. Sekolah yang memang pada awalnya didirikan demi pengetahuan eksak santri-santri pondok pesantren.

Biar tidak diam terlalu lama,Langsung saja ku awali dengan perkenalan, nama sayaAzizi Fahmi, asal dari sidoarjo,disini kakak sedang menjalani tugas pengabdian, dan lain sebagainya, setelah itu kuminta juga anak didik baruku berbicara satu-persatu memperkenalkan diri sambil aku minta juga untuk  menyebutkan cita-cita yang mereka miliki.  Ada yang bercita-cita jadi dokter,pramugari,guru dan yang laki-laki hampir semuanya bercita-cita jadi pesepak bola. Lalu ku timpali dengan sedikit motivasi supaya mereka tak takut bermimpi untuk mengejar cita-cita nya setinggi langit,khas cuplikan kata-kata dalam film laskar pelangi karya andrea hirata. Seolah menggambarkan dan ku tekankan dalam diri mereka, kalau mereka adalah sang penerus bangsa ini.

Setelah acara perkenalan selesai, langsung saja aku tanya pelajaran apa hari ini. Serempak mereka menjawab, “bahasa arab kaaakk”. Wew, sontak langsung membuat ku sedikit salting mendengarnya. Maklum lah,biarpun dulu aku juga pernah mengenyam pendidikan pesantren,namun sudah hampir 4 tahun terakhir otak ku terinstall ulang dengan coding-coding pemrograman khas Teknik Informatika. Sehingga materi-materi dan ilmu yang berbau bahasa arab ku pun hampir sirna sudah. Keringat pun mulai bercucuran membasahi peluh ku. Terdiam ku sesaat,serasa terkunci bibirku. Kupandangi muka polos adik-adik sang penerus bangsa didepan mataku yang tak sabar menunggu materi apa yang akan kusampaikan.

Mencoba bersikap rileks biar tidak terlihat semakin kaku,kutanya mereka dengan suara ku yang agak sedikit parau karena grogi, “sampai mana pelajaran  nya adik-adik? Ada PR gak dari guru kalian sebelum nya?” mereka pun menjawab, ”ada kakk”. Lantas ku timpali , “Boleh kakak lihat ?” . wajah-wajah polos itu pun sontak langsung berdiri menyerahkan PR bahasa arab nya kepadaku. Kulihat dan kukoreksi pekerjaan mereka satu-persatu seolah meyakinkan mereka kalau aku tidak se-gugup yang mereka kira dan sedikit mengerti tentang pelajaran yang sedang aku pegang. Namun semakin tidak mengerti dan tidak paham juga aku akan pelajaran ini. Sedikit mencari refrensi aku tanya, “kitabnya tentang pelajaran ini mana??” . mereka pun menjawab, “gak ada kakk, dibawa gurunya”. Keringat pun semakin deras,seolah ini bukan diriku yang biasanya. Maklumlah, pelajaran yang tak lazim kutemui juga tanpa ada kitab atau refrensi yang dapat aku pakai untuk mengajar. Aku pun mencoba tuk berpikir cepat. Ku teringat dalam tas ransel ku ada kamera digital biasa aku gunakan tiap ada moment-moment yang menarik dan sebuah laptop yang kebetulan sebelum mengajar meminjam pada salah satu temanku andi, karena memang sebagian dari teman-teman KKN memberikan sedikit tips kalau anak-anak disana masih sangat buta akan teknologi, terutama komputer.

Antusiasme saat belajar mengoperasikan laptop

Antusiasme saat belajar mengoperasikan laptop

Kutaruh buku-buku tentang pelajaran bahasa arab tersebut dan dengan nada ajakan yang berharap di kabulkan kutawari laskar pelangi itu dengan pelajaran komputer. Sontak mereka lebih antusias menyambutnya mengingat disekolah nya memang tidak ada pelajaran komputer atau kelas teknologi yang biasanya disebut mata pelajaran TIK. Sungguh tragis, di usia mereka yang seharusnya sudah mulai diajari dasar-dasar komputer seperti Ms Word,Excel dan Powerpoint namun disana tentang arti kata komputer,internet dan laptop pun menjadi tabu. Benar-benar sekolah yang gagap teknologi dalam batin ku.

Kubagi kelas itu menjadi dua bagian, bagian kiri adalah kelas belajar komputer dan disebelah kanan nya adalah kelas fotografi. Sungguh bahagia rasanya melihat wajah-wajah polos yang ceria dan kegembiraan pun terpancar jelas dari wajah mereka yang rata-rata baru pertama kali memegang laptop dan kamera digital. Dikelas fotografi satu-persatu dari mereka aku ajari bagaimana menggunakan kamera tersebut dan bagaimana cara mengambil gambar yang bagus. Kulihat mereka semua pada mencoba untuk meng-ekspresikan gaya mereka didepan kamera. Ada yang berfoto ria bersama kelompoknya dengan gaya minimalis , ada yang bergaya bak foto model desa, ada yang mengajak ku foto bareng bergantian. Sungguh merasa bak selebritis aku dikelas itu yang diminta fans bergantian foto bersama.

Dibagian lainnya para calon sarjana Teknik Informatika meng-ekspresikan diri. Aku ajari mereka bagaimana cara memegang mouse, bagaimana mengetik di keyboard dan bagaimana menghidupkan dan mematikan laptop. Ku lihat Sungguh gembira sekali mereka yang baru pertama kali memegang barang baru dan langsung belajar menggunakan nya dengan baik. Sontak saja, beberapa dari mereka ada yang berkata kepadaku bahwa telah menemukan cita-cita baru yang selama ini tak pernah terfikirkan dalam hidupnya,yaitu menjadi sarjana teknologi.

Iklan

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: